Categories: Indonesia, Notizie e Iniziative Tags: ,

PERJALANAN KKBM DI DESA LEWOKLUOK

Perjalanan ini bermula dari sebuah keinginan kuat untuk melampaui batasan ruang kelas. Sebagai mahasiswi program studi pendidikan bahasa inggris saya menyadari bahwa Tridharma pergururan tinggi bukan sekedar tentang teori melainkan sebuah panggilan untuk terjun langsung dan mengabdi kepada masyarakat. Dengan berpijak pada tema “Menjadi mahasiswa Yang Berkarakter dan Berdampak”, saya melangkah menuju Desa Lewokluok, Larantuka, Flores timur. Kamis, 9 April 2026, menjadi awal dari petualangan sembilan hari yang tak akan saya lupakan.

Suasana penuh sukacita menyelimuti lobby gedung FKIP saat Dr. Madar Aleksius M.Ed, melepas keberangkatan saya dan rekan rekan dengan memberikan beberapa wejangan dan doa bersama. Saya menempuh perjalanan panjang menggunakan bus hingga menyeberangi lautan menuju Larantuka menggunakan kapal Ferry. Sejujurnya saya merasa sangat deg-degan karena ini merupakan pengalaman pertama saya menyeberangi lautan dengan menggunakan kapal kecil. Banyak spekulasi yang muncul dibenak saya namun semuanya lenyap begitu saja ketika kapal mulai berlayar. Segalanya berjalan lancar hingga saya dan rombongan bisa tiba di Larantuka dalam suasana yang begitu bahagia. Setibanya di Desa Lewokluok, kehangatan warga serta keindahan alam langsung menyapa. Saya tinggal di salah satu rumah warga, melebur dalam keseharian mereka, dan belajar menyatu dengan ritme hidup di sana. Desa tempat saya tinggal menjadi saksi bisu awal pengabdian ini. Fokus utama saya di sana adalah mengabdi. Kegiatan Kemah Kerja Bakti Mahasiswa. Di bidang pendidikan, saya berkesempatan mempraktikkan apa yang saya pelajari selama ini dengan mengajar langsung di salah satu sekolah menengah atas. Tak berhenti di situ, setiap sore saya menemani anak-anak desa belajar Bahasa Inggris.

Salah satu momen yang membanggakan adalah saat penyelenggaraan Expo PBI dan lomba pidato bahasa Inggris untuk siswa SMA se-Larantuka, yang dengan harapan semoga membawa dampak positif bagi motivasi belajar mereka. Selain itu Saya juga terjun langsung ke lapangan untuk kerja bakti massal dan berdiskusi bersama OMK setempat mengenai isu-isu lokal. Dalam hal religi dan seni, saya ikut serta secara aktif sebagai anggota tim choir pada Misa hari Minggu dan mengikuti Doa Teze bersama masyarakat. Sebagai bentuk apresiasi saya terhadap keberagaman budaya lokal, pada tanggal 16 April, saya dan rekan-rekan mempersembahkan Malam Pentas Seni (Pensi). Melalui tarian dan seni, kami menyatu dengan warga dalam kegembiraan sebelum akhirnya saya harus bersiap untuk bertolak kembali ke Kupang. Bagi saya, KKBM Larantuka 2026 bukan sekadar program kampus biasa.

Ini adalah proses transformasi diri. Saya datang sebagai mahasiswi yang ingin belajar, dan pulang sebagai calon pendidik yang lebih berintegritas serta memiliki kepedulian nyata. Lewokluok telah mengajarkan saya bahwa pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang mampu memberikan dampak bagi sesama.

sr. Fransiska Ratrigis, FAdM
Mahasiswi FKIP Unwira Kupang